apt. Dyan Fitri Nugraha, M.Si: SILENT HYPOXIA, GEJALA YANG BUAT COVID-19 MENJADI LEBIH BERBAHAYA

Demam atau menggigil, batuk, sulit bernapas atau napas menjadi lebih pendek, kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala atau pusing, anosmia (kehilangan indra penciuman dan pengecap rasa), tenggorokan sakit atau kering, hidung tersumbat, mual dan/atau muntah, serta diare. Sebelas keadaan tersebut merupakan gejala yang mungkin anda alami ketika anda terinfeksi dan mengidap Covid-19. Dari sekian banyak gejala yang dirilis oleh pusat pengedalian dan pencegahan penyakit (CDC), tentu sulit bernapas merupakan gejala yang paling mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, ketika asupan oksigen menurun di paru-paru, atau tidak terjadinya pertukaran oksigen dan karbon dioksida di paru-paru secara sempurna, dapat menyebabkan berbagai keadaan klinis yang dapat mengancam jiwa pasien. Tidak diserapnya oksigen di dalam darah menyebabkan oksigen tidak didistribusikan pada jaringan lain yang membutuhkan, sehingga dapat menyebabkan kematian jaringan, diikuti kematian organ, diikuti kematian sistem organ hingga akhirnya pasien meninggal dunia.

Namun kini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan satu gejala Covid-19, yaitu Happy Hypoxia atau Silent Hypoxia. Silent Hypoxia adalah termin medis yang sebenarnya sudah beredar lama namun kembali populer karena Covid-19 sejak Juni 2020. Hipoksia adalah kondisi dimana kadar oksigen di dalam tubuh dalam kondisi rendah. Sedangkan Hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen di dalam darah rendah. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya, mengingat pasien dengan gejala Silent Hypoxia tidak menunjukkan adanya kesulitan bernapas atau dyspnea. Kecenderungan pasien dalam keadaan normal, hingga kadar saturasi oksigen menurun di bawah 80%.

Saturasi oksigen, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kadar atau persentase oksigen dalam darah. Normalnya, kadar saturasi oksigen berkisar 95-100%. Pada pasien yang memiliki gejala Silent Hypoxia, pasien tidak kesulitan bernapas atau adanya perubahan pola pernapasan menjadi lebih pendek dan dangkal ketika angka saturasi oksigen di bawah 95%. Keadaan ini menjadi berbahaya, karena pasien menjadi lebih sulit diselamatkan ketika dirujuk ke rumah sakit.

Terdapat beberapa dugaan mengapa Silent Hypoxia bisa terjadi. Salah satunya adalah diduga disebabkan akibat adanya kerusakan di bagian saraf pusat atau otak akibat Covid-19, sehingga tubuh tidak mengenali gejala hipoksia. Hal ini bisa saja terjadi, mengingat Covid-19 dapat menginfeksi berbagai organ di dalam tubuh melalui perantara Reseptor Angontensin Converting Enzym 2 dan aktivasi virus oleh Transmembrane protease, serine 2 (TMPRSS2) (Gambar 1).

Gambar 1. Sebaran Reseptor ACE-2 di dalam tubuh (Baraniuk, C. The Scientist.com

Berdasarkan Gambar 1, maka perlu juga diwaspadai gejala baru yang mungkin timbul di masa depan, tergantung lokasi Covid-19 awal mula bersarang. Mengingat luasnya sebaran reseptor ACE 2 yang menjadi pintu masuk bagi virus Covid-19.

Gambar 2. Pulse Oximeter

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menurunkan mortalitas atau angka kematian pasien yang disebabkan oleh Silent Hypoxia? Salah satu hal yang paling sederhana adalah menambahkan pengukuran saturasi oksigen sebagai skirining awal Covid-19 di berbagai fasilitas publik dengan menggunakan pulse oximeter, alat pengukur saturasi oksigen dalam darah. Pulse oximeter banyak tersedia di pasaran, dengan mengukur saturasi oksigen perifer yaitu di jari pasien. Mengingat tata cara penggunaan oximeter atau pulse oximeter yang dijepitkan di jari pasien (Gambar 2), perlu diperhatikan agar peruntukan bagi publik harus memandang kebersihan atau protokol kesehatan, yaitu mencuci tangan dengan sabun sebelum menggunakan pulse oximeter secara bergantian.

Penulis:

apt. Dyan Fitri Nugraha, M.Si
Dosen Bidang Farmakologi-Toksikologi Klinik
Jurusan Farmasi
Fakultas Kesehatan UNISM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *